Menu Tutup

HARI RAYA IDUL FITRI TAHUN 2021/ 1442 H

[metaslider id=”3929″]

Sumber : Dokumentasi RSUD Sultan Fatah Kabupaten Demak

Puasa benar-benar menyadarkan kita semua akan adanya hukum hak dan kewajiban ini. Kita menjalankan puasa, lalu kita dapatkan hak untuk berbuka. Kita lakukan perintah-perintah Allah dan kita tinggalkan larangan-larangan-Nya selama kita berpuasa, dan kita diberikan hak untuk dikabulkannya doa. Allah berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186).

Betapa cepat Ramadhan berlalu. Betapa indah kenangan yang ditinggalkannya. Rasanya baru kemarin datang, tapi kini telah meninggalkan kita semua. Dan, tak mungkin kita minta kembali lagi. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan lagi ditahun berikutnya. Setelah Ramadhan berakhir maka masuk bulan syawal artinya Idul Fitr, berarti hari raya berbuka puasa. Bagaimana Rasulullah merayakan Idul Fitri?
Rasulullah saw telah memberikan beberapa contoh yang perlu diperhatikan. Yang paling utama, sudahkah kita mengeluarkan zakat fitrah atau maal sebelum shalat Ied? Tujuannya, untuk berbagi kegembiraan dihari fitri ini dengan kaum dhuafa atau fakir miskin agar ikut merasakan kebahagiaan dihari itu. Namun apabila imam sudah mengumandangkan takbir untuk shalat Ied, maka sudak tidak lagi disebut zakat melainkan sedekah.
Janganlah merayakan dengan berlebihan, sangat istimewa bahkan terkesan ada yang dipaksaan hingga diluar kemampuan. Untuk itu Islam menganjurkan hendaknya menyambut dengan niat baik, dengan kondisi seadanya, meski sebaiknya berpakaian yang paling bagus, tapi tidak harus baru, karena semua ini merupakan salah satu bentuk syukur terhadap nikmat Allah. Ketika menjelang berangkat sholat Ied, dianjurkan makan meski hanya sebutir kurma, karena ada hadist yang mengatakan : “Rasulullah saw tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga beliau makan, sedangkan pada hari Raya Kurban beliau tidak makan hingga kembali (dari masjid) lalu beliau makan dari sembelihannya”. (HR Tirmidzi, Ahmad,).

Pada pelaksanaan Sholat Ied sangat dianjurkan agar para wanita dan anak-anak untuk ikut. Seandainya ada wanita yang sedang haid, diusahakan tetap menghadirinya, meskipun hanya dibelakang shaf atau diluar masjid, tujuannya agar semuanya bersama-sama merasakan dan merayakan kegembiraan.
Disunnahkan pada waktu ketempat shalat dengan berjalan kaki,: “Termasuk sunnah untuk keluar menunaikan shalat Id dengan jalan kaki”.(HR Tirmidzi).
Disaat pulang dianjurkan untuk tidak melewati jalan yang dilalui ketika berangkat, karena ada hadist yang mengatakan : “Rasulullah saw pada hari raya biasa mengambil jalan yang berlainan (ketika pergi dan ketika kembali)” (HR Bukhari)

Ketika dalam perjalanan, sebaiknya selalu mengumandangkan takbir hingga menjelang dimulainya sholat Id. Yang perlu diperhatikan, Rasulullah saw tidak mengerjakan shalat sesudah Subuh hingga sebelum shalat Ied dimulai, kecuali shalat Tahiyatul Masjid. Pada saat sholat Ied, tidak ada azan maupun iqamah serta mendahulukan khutbah sebelum shalat. “Aku menghadiri shalat Ied bersama Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar dan Ali, semua melakukan shalat sebelum khutbah” (HR Bukhari, Ahmad, Muslim).

Barulah setelah sholat Ied selesai, sampai dirumah dianjurkan untuk melakukan sholat sunnah dua rakaat, karena Rasul mengerjakan shalat sunnah dua rakaat sesampai dirumah.
Kemudian setelah itu menjalin tali silaturrahmi, saling memberi dan mengucapkan salam serta maaf, meskipun bermaaf-maafan tidak harus hari raya dan meninggalkan sesuatu perkara yang melampaui batas . Dalam menjalin silaturrahmi ini kami segenap pegawai RSUD SULTAN FATAH mengucapkan Selamat hari raya Idul Fitri 1442 H, Minal Aidhin Wal Faidhin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *